DIPLOMASI ARAB SAUDI

Diplomasi adalah menjalankan politik luar negeri netral dan non blok, menganjurkan hubungan antar negara yang saling menghormati, bertetangga rukun, bersahabat dan saling tidak menginterfensi urusan dalam negeri. Menganjurkan kerja sama antar negara demi perdamaian, kestabilan dan kemakmuran. Giat meningkatkan persatuan dan kerja sama dengan negara-negara Arab dan Islam.
Pada tahun-tahun belakangan ini, menyesuaikan kembali kebijakan luar negeri dan melaksanakan politik luar negeri multi arah, aktif mengembangkan hubungan dengan Eropa Barat dan Jepang, di samping menaruh perhatian pada pengembangan hubungan dengan Tiongkok. Arab Saudi adalah anggota Liga Arab, Dewan Kerja Sama Negara-negara Arab Teluk, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Arab.
Hubungan dengan Tiongkok: hubungan persahabatan antara Tiongkok dan Arab Saudi mempunyai sejarah lama. Jauh pada abad ke-7, murid Muhammad s.a.w. sudah berlayar menyeberangi samudera untuk menyebarkan agama Islam di Tiongkok. Pada abad ke-15, pelayar Tiongkok terkenal dari Dinasti Ming, Zheng He juga pernah berkunjung ke Arab Saudi dalam pelayarannya ke Samudera Barat. Tiongkok dan Arab Saudi membuka hubungan diplomatik pada tanggal 21 Juli 1990.

Diplomasi dengan AS (Peran Diplomasi di Belakang Layar)

Bagi Arab Saudi, Pangeran Bandar (putra dari Pangeran Abdul Aziz) merupakan sosok kunci dalam urusan internasional Arab. Dia juga memainkan banyak peran di belakang layar dalam diplomasi dan kesepakatan internasional.
Semasa menjabat sebagai Duta Besar untuk AS, dia menikmati akses tidak terbatas ke pusat kekuasaan AS. Dia sangat dekat dengan Dinasti Bush dan para sekutunya, termasuk Wakil Presiden Dick Cheney.
Peran dan hubungan dekat Pangeran Bandar dengan Washington mulai terbuka saat wartawan surat kabar Washington Post, Bob Woodward, menulis laporan berjudul Rencana Serangan (Plan of Attack) tentang perencanaan invasi ke Irak yang dipimpin AS pada 2003. Woodward menuliskan, pada Januari 2003, Pangeran Bandar diberi tahu tentang detail penting rencana serangan terhadap Saddam Hussein, bahkan sebelum rencana itu ditunjukkan kepada Menlu Colin Powell.
Peran rahasia
Dalam sebuah wawancara dengan majalah New Yorker, Pangeran Bandar mengatakan, kekecewaan terbesarnya adalah kegagalan pembicaraan untuk menyelesaikan konflik Timur Tengah. Dia memainkan peran yang dirahasiakan dalam negosiasi antara pemerintahan mantan Presiden Bill Clinton dan Timur Tengah.
Meskipun Arab Saudi memboikot Israel secara diplomatik, media Israel pernah memberitakan bahwa Pangeran Bandar diam-diam bertemu PM Ehud Olmert pada September 2006 untuk mendiskusikan rencana perdamaian Arab.
Pangeran Bandar juga disebut-sebut berada di balik kesepakatan Mekkah antara Fatah dan Hamas dalam upaya membangun pemerintahan bersatu Palestina.

Diplomasi terhadap Israel
Para pemimpin negara-negara Arab bertemu di Arab Saudi dalam konferensi tingkat tinggi yang diperkirakan akan meluncurkan kembali sebuah rencana perdamaian dengan Israel.
Rencana itu dirancang oleh Arab Saudi lima tahun lalu, dan menawarkan normalisasi hubungan dengan Israel dengan imbalan, Israel mundur dari seluruh tanah yang dia rebut dalam perang tahun 1967 dan menerima berdirinya negara Palestina yang independen. Menjelang KTT itu Presiden Palestina Mahmoud Abbas memperingatkan bila inisiatif ini gagal, di masa depan mungkin tidak akan ada kesempatan seperti ini lagi. Namun, Israel mengatakan, sejumlah bagian terpenting dari rencana itu tidak dapat diterima, termasuk tuntutan agar para pengungsi Palestina dibolehkan kembali.
Perannya di Kawasan asia Barat
Di masa lalu, KTT Liga Arab hanya mempunyai satu prioritas, yaitu konflik Arab Israel.
Wartawan BBC Maghdi ABdul Hadi, mengatakan, keadaan sekarang berbeda.
Persoalan di Libanon bisa meledak, sedangkan di Irak terjadi pertumpahan darah, dan di Darfur terjadi krisis kemanusiaan.
Berbagai perkembangan ini menggambarkan mengapa KTT Liga Arab kali ini diambut harapan tetapi sekaligus rasa takut yang lebih besar, kata wartawan kami.
Menurut dia, sulit untuk memprediksi hasil KTT ini, karena sifat konflik-konflik yang dihadapi amat rumit dan karena dunia Arab tidak bisa mempengaruhi semua pihak yang terlibat, apalagi menyapakati tindakan bersama.
Pada akhirnya, konflik Arab Israel mungkin merupakan masalah termudah dalam agenda pembicaraan, karena ada kesepakatan luas untuk meluncurkan kembali prakarsa Saudi, yang pertama kali dilontarkan tahun 2002.
Prakarsa itu menyerukan Israel untuk mundur dari wilayah Palestina dan Suriah yang diduduki sejak tahun 1967. Sebagai imbalan, dunia Arab akan membuka hubungan diplomatik yang normal dengan negara itu.
Ditunjuknya Arab Saudi menjadi Tuan rumah penyelenggaraan KTT Liga Arab merupakan
Perkembangan ini menunjukkan ambisi kerajaan itu untuk mengambil peran yang setara dengan kemampuan ekonominya. Alasan lainnya adalah Saudi terpaksa memikul peran ini karena akumulasi krisis di negara-negara tetangganya.
Yang paling gawat adalah pengaruh Iran yang semakin besar dan kemungkinann negara itu memperoleh senjata nuklir.
KTT ini merupakan ujian berat bagi diplomasi Arab Saudi.
Jika berhasil, peristiwa ini bisa menjadikan Arab Saudi sebgai pemimpin dunia Arab, peran yang selama ini dipegang oleh Mesir, kata wartawan kami.

Sumber :
http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2007/03/070328_arabsummit.shtml
http://indonesian.cri.cn/1/2006/09/20/1@50347.htm
http://64.203.71.11/kompas-cetak/0706/09/ln/3588208.htm