Sejak abad ke-7 (lahirnya agama islam) Arab Saudi (madinah) sudah mencoba berinteraksi dengan negara lain. Saat itu madinah sebagai negara, berusaha berinteraksi dengan wilayah lain untuk menyebarkan agama islam.

Hubungan dengan Iran

Hubungan Arab Saudi dengan Iran

Sayyid Muhammad Huseini, duta besar Iran untuk Arab Saudi, dalam penjelasannya menegaskan bahwa hubungan bilateral kedua negara sangat baik. Kunjungan pejabat kedua negara volumenya bertambah semenjak Raja Abdullah naik menggantikan Raja Fahd. Hubungan kerja sama Iran dan Arab Saudi semakin menunjukkan grafik menaik.

Namun pun demikian, kelompok Wahabi garis keras tetap saja memandang negatif terhadap Iran. Hal itu dikarenakan mayoritas rakyat Iran adalah Syi’ah, begitu juga dengan pemerintahnya. Penggantian duta besarnya di Amerika yang baru menduduki posnya selama 15 bulan dan pembelaan pejabat-pejabat tinggi Arab Saudi atas sikap Amerika terhadap Iran merupakan dua faktor yang membuat Arab Saudi lebih memilih bersekutu dengan Amerika.

Sebagian analis melihat bahwa hubungan Iran dan Arab Saudi sedang mengarah pada kondisi gawat. Oleh mereka disebutkan, Iran sekurang-kurangnya sangat aktif pada tiga hal; Pertama, menyokong Hizbullah di Lebanon yang nyata-nyata adalah Syi’ah. Kedua, membantu secara penuh rakyat Palestina melalui HAMAS dan ketiga memprovokasi orang-orang Syi’ah di Irak untuk menyerang pasukan Amerika.

Pembelaan Iran terhadap Hizbullah dan orang-orang Syi’ah Irak dapat menegaskan kesyi’ahan Iran. Dan ini menunjukkan bahwa revolusi Iran bukan merupakan revolusi Islam, melainkan revolusi Syi’ah. Namun, pada kasus pembelaan Iran terhadap rakyat Palestina lewat HAMAS, yang nyata-nyata Ahli Sunah, menepis isu di atas. Pemimpin spiritual Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamene’i dengan mantap menunjukkan bahwa satu bukti keislaman revolusi Iran adalah bantuan baik materil maupun moril terhadap rakyat Palestina. Bila revolusi Iran tidak berdasarkan Islam, melainkan Syi’ah, niscaya Iran tidak akan membantu rakyat Palestina. Bantuan Iran tidak pernah atas nama Syi’ah, tapi mengatasnamakan Islam.

Pembelaan Iran terhadap kelompok-kelompok Syi’ah, yang dianalisa oleh Barat, membuat mereka semakin khawatir. Arab Saudi juga punya kekhawatiran yang sama. Kekhawatiran ini sangat beralasan karena sekitar 10 sampai 15 persen rakyat Arab Saudi adalah Syi’ah. Dan yang lebih mengkhawatirkan lagi, kebanyakan dari mereka hidup di kawasan-kawasan kaya minyak.

Dengan memprovokasi 15 persen orang-orang Syi’ah, maka minyak yang menjadi tulang punggung perekonomian Arab Saudi menjadi guncang. Keguncangan ini akan berdampak sangat besar terhadap perekonomian dunia. Ini dipahami betul oleh pejabat-pejabat Arab Saudi dan juga Amerika.

Undangan Raja Abdullah kepada Hizbullah untuk mencarikan solusi bagi masalah dalam negeri Lebanon seharusnya dapat dilihat juga dari kaca mata ini. Begitu juga kunjungan Ali Larijani sekjen Badan Keamanan Nasional Iran kepada Raja Abdullah sebelum kedatangan Rice, menteri luar negeri Amerika, tidak lepas dari upaya menjaga stabilitas kawasan.

Keberadaan 15 persen orang-orang Syi’ah di kantong-kantong subur minyak Arab Saudi memang menyimpan masalah tersendiri buat pejabat Arab Saudi. Sekalipun ulama ekstrim Wahabi mengeluarkan fatwa bahwa Syi’ah adalah kafir, petinggi negara Arab Saudi masih tetap bersikap hati-hati mengeluarkan statemen terhadap Iran.

Itulah mengapa pada tahun kemarin, pemerintah Arab Saudi memberikan izin kepada kaum muslimin Syi’ah untuk memperingati hari Asyura. Semoga tahun ini pelaksanaan hari Asyura masih dapat dilakukan di tengah-tengah isu pertikaian Ahli Sunah dan Syi’ah yang dihembuskan oleh Barat dan ulama Wahabi.

Dengan India

India, yang haus energi itu mengimpor 70 persen dari minyak mentahnya untuk bahan bakar guna mempercepat perumbuhan ekonominya yang mencapai 9,1 persen dalam semester pertama 2006.

Arab Saudia memasok 26 persen dari permintaan minyak India. Tahun lalu , dua negara itu sepakat untuk meningkatkan hubungan sektor energi selama kunjungan King Abdullah.

Deora juga mengadakan pembicaraan dengan rekannya dari Nigeria dan Sudan. Menteri Perminyakan india itu menyatakan kepada Menteri Nigeria Edmund Daukoru bahwa perusahaan minyak milik pemerintah, Indian Oil Corp tertarik dalam pendirian kilang di negaranya, kata pejabat itu.

India juga menginginkan untuk meningkatkan impor minyak mentahnya dari Nigeria. Pada kesempatan itu Nuami mengatakan bahwa belum diperlukan untuk dilakukan pertemuan darurat OPEC guna membicarakan penurunan produksi.

Ia mengatakan bahwa situasi di pasar minyak mentah masih dalam kondisi “sehat” dan di mana tidak perlu ada kepanikan terhadap harga minyak yang telah mengalami penurunan 14 persen sejak awal 2007

Dengan Afganistan

Arab Saudi Putuskan Hubungan Diplomatik Dengan Afghanistan

Kantor berita Saudi News Agency mengatakan Arab Saudi telah memutuskan hubungan diplomatik dengan penguasa Taleban di Afghanistan. Laporan itu mengatakan pemerintah di Ryadh mengeluarkan pernyataan hari ini yang menyatakan bahwa tindakan tersebut diambil karena Taleban tidak mengindahkan himbauan Arab Saudi agar penguasa Taleban tidak melindungi penjahat dan teroris. Pernyataan itu tidak menyebut nama warga kelahiran Arab Saudi, Osama bin Laden yang dituduh Amerika sebagai tersangka utama dalam serangan teroris 11 September. Pakistan sekarang merupakan satu-satunya negara yang mengakui penguasa Taleban sebagai pemerintah yang sah di Afghanistan.

Sementara, persekutuan anti-Taleban di Afghanistan mengatakan mereka memperoleh kemajuan dalam pertempuran melawan pasukan Taleban di wilayah Utara negeri itu. Mereka mendekati sebuah kota penting – Mazar I Sharif dekat perbatasan dengan Uzbekiztan. Taleban mengakui kemarin bahwa kelompok oposisi merebut kota kecil Zari – ditepi jalan utama yang menghubungkan Uzbekistan dengan Afghanistan Tengah. Tembak menembak artileri juga terdengar kemarin di lembah Panjshir sekitar 60 km sebelah Utara ibukota Kabul. Pertempuran meningkat lagi sejak Amerika menempatkan kekuatan militer nya untuk menghadapi Taleban dan Osama bin Laden yang menurut Washington adalah tersangka utama dalam serangan teroris dua minggu lalu.

Interaksi dengan Amerika Serikat

Pada satu pihak, Dinasti Saud menganut sistem teokrasi Islam yang mendapat kekuatan dari persekutuannya dengan kelompok fundamentalis Wahabi, sebuah kelompok aliran Islam yang berusa-ha mempertahankan keaslian ajaran agamanya dan menjadi lahan subur bagi tumbuhnya jaringan garis keras dunia untuk melakukan jihad kekerasan
terhadap AS. Di lain pihak, sekutu terpenting Dinasti Saud adalah sang “Setan
Besar” itu sendiri, Amerika Serikat. Dengan pengamatan sekilas terhadap hubungan itu, terungkap adanya kontradiksi yang mengejutkan: Amerika sebagai negara sumber demokrasi, harus melindungi dan mempersenjatai negara kerajaan teokratis absolut.
Amerika Serikat sebagai negara yang bersumpah untuk membela Israel, ternyata juga merupakan penjamin keamanan bagi negara pengayom Islam Wahabi, sebuah aliran Islam fundamentalis yang merupakan salah satu musuh abadi Israel dan Amerika.
Juga secara mengejutkan, hubungan yang sensitif tersebut bukan hanya bisa bertahan, tetapi berlangsung sangat sukses. Dalam waktu hampir tiga dasawarsa sejak embargo minyak pada tahun 1973, AS telah membeli minyak, dengan harga yang masuk akal bernilai ratusan milyar dolar. Pada periode waktu yang sama pula, Arab Saudi telah membeli senjata bernilai ratusan milyar dolar dari AS. Arab Saudi juga telah mendukung AS dalam menangani masalah keamanan regional di Iran dan Irak, serta menahan diri untuk tidak bermain agresif melawan Israel.
Anggota keluarga kerajaan Arab Saudi, ter-masuk Bandar, telah menjadi milyuner dari waktu ke waktu, dan dengan proses diam-diam mereka telah menjadi pemain utama di pasar Amerika dengan investasi ratusan milyar dolar pada saham-saham di perusahaan AS.5 Sementara itu harga minyak, sebagai penentu utama dalam ekonomi, politik dan kegelisahan budaya di Amerika, bisa terjaga cukup rendah sehingga kendaraan bermotorseperti SUV yang rakus bensin tetap bisa ditemui di jalanan Amerika. Selama era Presiden Reagan dan Clinton, kondisi itu menyebabkan perekonomian berhasil meningkat.
Hubungan tersebut merupakan jalinan antara uang, kekuasaan, dan kepercayaan. Hubungan itu bertahan karena dua pihak yang berlawanan yaitu fundamentalis Islam dan AS saling menutup mata. Militer Amerika mungkin menyebutnya sebagai kebijakan “jangan bertanya,
jangan bicara”. Al -Quran juga mempunyai versinya sendiri, yaitu: “Janganlah kau bertanya tentang hal-hal yang, jika dijelaskan kepadamu, bisa menyebabkan kesulitan untukmu.”6 Namun sekarang, segera setelah peristiwa 9/11, rahasia ter-sembunyi mengenai hubungan itu telah terbuka. Karena ribuan orang tak berdosa telah terbunuh dan sebagian besar pembunuhnya dikatakan sebagai orang Saudi. Itu membuat Bandar harus meyakin-kan pemerintah Amerika bahwa hubungan antara Amerika dan Arab Saudi baik-baik saja. Bandar, yang selama ini selalu menjadi seorang perantara yang baik, kini dengan sikapnya yang tenang harus menghadapi ujian berat, yang tak pernah terjadi sebelumnya.

Sumber :

http://www.paksi.net

http://www.voanews.com

http://www.suaramerdeka.com